Tampilkan postingan dengan label formasi geologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label formasi geologi. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 01 Mei 2021

Wellsite Geologist


Hai, gimana kabarnya teman-teman setia Geodestinasi? ðŸ™‚

Kali ini saya mau cerita apa itu Wellsite Geologist. Oke, jadi simpelnya Wellsite Geologist itu adalah orang geologi yang jaga sumur, hehe. Tapi bukan sembarang jaga, ada hal yang dia catat dan dia analisis.

Biar gampangnya, saya ambil contoh. Kemarin saya habis pulang dari Gorontalo, jadi Wellsite Geologist di sana untuk pengeboran air tanah. Jadi tugas saya itu, mengawasi kegiatan pemboran dari mulai pilot hole, logging, reaming hole, dan harusnya hingga uji pemompaan (pumping test).

Ini lokasi waktu ngebor

Pilot Hole

Pilot hole ini awal mula bor dimulai, jadi pilot, pendahulu gitu. Waktu itu diameter lubangnya 8″, alat yang kita pakai jenis rotary spindle. Pilot hole kita punya target kedalaman 90 m, nanti dilanjutkan pembesaran lubang (reaming). Tugas saya sebagai wellsite geologist mencatat Static Well Level (SWL) sebelum dan setelah kegiatan pemboran selesai. Terus ada parameter fisik lumpur yang harus diukur pakai alat namanya Intelligent Meter, alat ini nanti ngukur tingkat salinitas, Total Dissolve Solid (TDS), suhu, electricity, dan pH. Karena ada dugaan infiltrasi air laut, parameter yang dikontrol ketat itu salinitas dan TDS. Kalo airnya asin atau payau, nilai dua parameter itu tinggi dari yang sebelum-sebelumnya. 

Ini dia Intelligent Meter 

Nah, di Pilot Hole ini juga, tugas utama geologist itu deskripsi cutting yang keluar dari hasil pengeboran. Kekuatan seorang geolog adalah observasi dan analisis. Jadi, hasil deskripsi batuan yang digerus mata bor ini nanti keangkat naik lewat sumur dan mengalir ke mud pit. Sebelum ke mud pit ini, cutting diambil dan dideskripsi. Ada sampel basah dan kering. Hasil deskripsi batuan ini akan dibuat log litologi untuk disandingkan dengan log-log yang lain untuk memperkuat analisis posisi screen yang harus ditaruh.

Tak lupa, data seperti Rate of Penetration (ROP) juga dicatat. Kalo ketemu litologi yang keras, biasanya ROP relatif lambat gitu, kalo yang lunak kayak lempung, ROP nya cepet.

Ini dia cutting hasil pengeboran, litologinya itu andesit dan tuf.

Mud Pit, kolam lumpur, lumpurnya dibuat dari adonan air dan bentonit. Makin kental mud nya nanti cutting yang keangkat lebih gede terus bisa bikin cepet ngebornya juga. Tapi hati-hati kalo ketemu akuifer, mud yang kentel bisa ngaruh ke akuifernya.

Logging

Logging ini pakai alat khusus, ada log Sp, terus Gamma, dan Resistivity. Pokoknya nanti muncul grafik-grafik gitu, bisa jadi data penting untuk interpretasi lapisan akuifer. Akuifer ini mengandung air dan akan ditaruh saringan (screen). Kalo yang bukan akuifer, nanti dipasangnya pipa buta, bahannya bisa stainless steel atau galvanis.  Tahap logging ini menjadi penting karena ditambah dengan log litologi akan menjadi dasar penentuan kegiatan selanjutnya untuk konstruksi. Berapa batang pipa screen dan berapa batang pipa buta yang mesti dilas dan siap untuk dikonstruksi nantinya. Ohia, interpretasi ini jadi andalannya orang geologi. Dengan data yang banyak dan bervariasi, satu orang dengan orang lain bisa beda interpretasi. Kasus di Gorontalo ini memang banyak rekahan yang terisi mineral seperti kalsit, ada juga alterasi mineral klorit. Data log yang menjadi dasar paling utama di log Resistivity dan log Sp. Kalo log Gamma datar semua karena memang homogen litologinya andesit.   

Kayak gini contoh log. Gambarnya saya ambil dari https://mountsopris.com/items/40grp-1000-combination-gamma-and-resistivity-probe/

Reaming Hole

Reaming Hole pembesaran lubang. Dengan kekerasan litologi yang tinggi, reaming dimulai dengan diameter 10″ untuk kemudian diteruskan dengan diameter 12″.

Konstruksi

Pumping Test

Dua di atas terakhir dilanjut lain waktu bahasannya. Kalo untuk pumping test sih nanti uji pemompaan gitu, outputnya berapa sih debit air yang optimum bisa diambil, itu ada banyak hitung-hitungan rumusnya.

Oke, sekian dulu ya ^^

Terimakasih sudah berkunjung. Tetap pantengin terus website ini. 

Ada banyak keindahan di Gorontalo, ini fotonya

 

    

Formasi Batuasih

 

Formasi Batuasih
Penamaan
Nama Batuasih diambil dari nama desa sekitar 3 km selatan dari Cibadak, Sukabumi, letaknya tepat di lembah antara G. Walat dan antiklin Pasir Bongkok. Nama Batuasih dipakai untuk penamaan satuan di daerah ini, pertama-tama oleh Baumann (1972) dengan nama Batuasih Marl Formation, dan kedua secara lebih resmi diberikan oleh
Effendi (1974) sebagai Formasi Batuasih. Nama Formasi Batuasih tetap dipertahankan dalam tulisan ini mengingat ciri dari batuan ini dalam ruang dan waktu adalah jelas dan tersendiri.

Penyebaran dan Ketebalan
Penyebaran Formasi Batuasih agak terbatas. Secara litologi formasi ini menyerupai Formasi Cijengkol di Banten Selatan, tetapi di Banten jauh lebih tebal, serta bersifat lebih marin, kaya akan foram plangton. Kearah timur beberapa singkapan napal hitam di daerah Rajamandala, Cipanas (Saguling) juga sangat menyerupai Formasi Batuasih. Ketiga singkapan tersebut, Formasi Cijengkol, Formasi Batuasih (termasuk singkapan di Rajamandala),
mempunyai kedudukan stratigrafi yang sama. Ketebalan Formasi Batuasih di daerah lokasitipenya adalah 111 m. Di Saguling ketebalan minimum adalah 400 m, sedangkan Formasi Cijengkol di Banten Selatan adalah 570 m.
Nama terakhir masih perlu dipertahankan.

Ungkapan Morfologi
Formasi Batuasih yang berbatasan dengan Formasi Bayah dan Formasi Rajamandala menunjukkan morfologi yang terendah. Hal ini disebabkan karena kedua satuan yang membatasi mempunyai ketahanan erosi yang lebih besar,
sehingga morfologi Formasi Batuasih selalu merupakan lembah diantara kedua perbukitan tersebut.
Lokasitipe dari Stratotipe
Stratotipe Formasi Batuasih berada pada lokasitipenya, yakni desa Batuasih (Gambar 1). Singkapan terbaik adalah sepanjang sungai kecil dekat pembakaran gamping paling utara. Sebagai lokasitipe dari Formasi Batuasih dipilih desa Batuasih, yang terletak diantara G. Walat dan Pasir Bongkok di jalan Cibadak – Pelabuhan Ratu. Koordinat dari lokasitipe ini adalah 106° 46’ B.T. dan 6° 50’ L.S.

untitled

Ciri Litologi
Formasi Batuasih yang menutupi Formasi Bayah di G. Walat kebanyakan terdiri dari lempung yang keras, padat sering napalan. Beberapa sisipan tipis lanau pasiran juga ditemukan dan kadang-kadang juga dijumpai pasir. Lanau
pasiran ini umumnya terdiri dari kwarsa dan rijang, tidak mengandung fragmen volkanik. Pirit umum dijumpai. Salah satu singkapan yang baik di S. Cibatu. Bagian atas, terutama lebih bersifat napalan banyak mengandung fosil foraminifera dan gastropoda disamping fragmen echinoid dan bryozoa. Warna umumnya abu-abu kehitaman,
getas dan menyerpih.

Ciri Batas
Ciri batas bawah dari Formasi Batuasih dengan Formasi Bayah di G. Walat, ditandai oleh berkurangnya atau hilangnya pasir dan konglomerat pada Formasi Bayah. Lempung pada Formasi Batuasih bagian bawah sulit dibedakan dengan beberapa sisipan lempung yang tebal pada Formasi Bayah di daerah G. Walat. Batas di daerah tipe tidak jelas, karena terusakkan oleh sesar. Batas atas di daerah tepinya terlihat jelas di sungai kecil dekat perkapuran paling utara. Pada air terjun bagian atasnya terdiri dari gamping, sedangkan bagian bawahnya secara
berangsur berubah menjadi lempung, napal hitam dari Formasi Batuasih. Ciri batas lateral tidak diketahui karena
penyebaran yang sangat terbatas. Di bagian sebelah timur dari G. Walat, di selatan Sukabumi, batugamping dari Formasi Rajamandala langsung berada diatas Formasi Bayah yang terdiri dari pasir kwarsa. Dari gejala tersebut Baumann (1972) menganggap bahwa Formasi Batuasih merupakan fasies lautan dari Formasi Bayah Atas. Oleh karena itu Baumann (1972) menganggap kedudukan antara Formasi Rajamandala dan Formasi Batuasih adalah tidak selaras, walaupun antara keduanya tidak terdapat selang waktu sedimentasi yang berarti. Formasi Batuasih
berumur Oligosen Atas, dan Formasi Rajamandala ditutupi oleh Formasi Citarum yang berumur Oligosen Akhir (terakhir). Kedua formasi, Formasi Batuasih dan Formasi Rajamandala menurut penelitian ini adalah merupakan perubahan fasies, dan samasama tidak selaras diatas Formasi Bayah. Formasi Batuasih dan Formasi Rajamandala merupakan endapan daerah transisi dan laut dangkal, sehingga perubahan fasies antara kedua satuan tersebut dapat terjadi setempat-setempat. Seringnya dijumpai sisipan batupasir kwarsa pada bagian bawah Formasi Rajamandala menguatkan kesimpulan tersebut.


Kandungan Fosil dan Umur
Pada bagian terbawah dari Formasi Batuasih ini tidak ditemukan fosil laut dangkal. Gastropoda dan pelecypoda, diantaranya yang dapat dikenal adalah : Conus sp dan Terebra, pelecypoda umumnya sudah sangat rusak. Fosil
lain yang ditemukan adalah duri echinoid, yang umumnya menunjukkan lingkungan laut dangkal dan berpasir. Adanya fosil ini dapat menunjukkan thanatoconoese dari beberapa fosil pada napal di Batuasih ini. Fosil foraminifera juga ditemukan pada bagian tengah dan atas dari Formasi Batuasih ini. Baumann (1972) menemukan :
Globigerina praebulloides
G. angulisuturalis
G. ciporuensis
yang menunjukkan umur N2 – N4 atau Oligosen Akhir. Adinegoro dan Arpandi (1976) menyebutkan adanya beberapa foram besar :
Nummulites sp
Heterostegina borneensis
Lepidocyclina sp
Dalam penelitian terakhir, telah diteliti contoh batuan dari Formasi Batuasih, tetapi hanya bagian atas yang mengandung foram plangton. Walaupun tidak banyak jumlahnya, tetapi semua species yang ditemukan oleh Baumann (1972) juga terdapat pada contoh yang diperiksa, disamping itu juga ditemukan beberapa contoh dari Globigerina tripartita.

Kedudukan Stratigrafi
Formasi Batuasih merupakan lingkungan transisi dari dominan lingkungan darat (pasir konglomerat dari Formasi Bayah di G. Walat) ke lingkungan lautan (gamping dari Formasi Rajamandala). Kedudukan stratigrafi dari Formasi Batuasih dan Formasi Bayah dibawah mungkin tidak selaras, sedangkan batas atasnya dengan Formasi Rajamandala adalah selaras.

Lingkungan Pengendapan
Warna Formasi Batuasih umumnya hitam, abu-abu, sering mengandung mineral pirit. Fosil di bagian bawah umumnya jarang. Kearah atas fosil makin mengarah ke fosil laut. Di bagian tengah banyak mengandung pelecypoda
dan gastropoda, sedangkan pada bagian atas sering dijumpai napal yang mengandung foraminifera. Dari uraian diatas dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan Formasi Batuasih adalah laut transisi dengan kondisi reduksi pada bagian bawahnya.
Didalam catatan Formasi Ciletuh dan Formasi Bayah telah disebutkan bahwa Formasi Bayah merupakan pendangkalan dari sistem prisma akresi di depan busur vulkanik. Formasi Batuasih terletak tidak selaras diatas
Formasi Bayah yang mengandung sisipan batubara. Dari sini kita dapat simpulkan bahwa, proses transgresi telah menerus di selatan, menutupi suatu lembah yang dulunya merupakan punggungan busur luar yang berlingkungan
darat. Oleh karena itu kita dapat simpulkan bahwa Cekungan Bogor mulai terlihat pada umur Akhir Oligosen ini.

 

Referensi:

Martodjojo, S. (2003): Evolusi Cekungan Bogor Jawa Barat, Penerbit ITB, Bandung.

Evolusi Cekungan Bogor

 

Evolusi Cekungan Bogor

Pulau Jawa berbeda dengan Sumatra dari segi stratigrafi, karena adanya cekungan di tengah pulau ini yang umumnya terisi endapan aliran gravitasi. Cekungan ini di Jawa Barat dinamakan sebagai Cekungan Bogor. Dari letak tektoniknya, Cekungan Bogor sebenarnya dapat diikuti menerus ke Jawa Tengah dan Jawa Timur. Nama lain, seperti Cekungan Serayu dll., lebih bersifat geografi daripada geologi. Di Jawa Tengah dan Jawa Timur cekungan yang sejenis kebanyakan tertutup oleh endapan Gunungapi Kwarter, sedangkan di Jawa Barat seluruh batuan tersingkap dengan baik. Oleh karena itu mempelajari Cekungan Bogor dianggap sebagai parameter terpenting dalam evolusi geologi Pulau Jawa.

Jawa Barat dibagi menjadi tiga mandala pengendapan, yakni : Mandala Paparan Kontinen di utara, Mandala Banten di barat dan Mandala Cekungan Bogor di selatan dan timur.

Mandala Paparan Kontinen di utara mempunyai batuan dasar berupa batuan metamorf, berumur Jura – Kapur dan batuan granit berumur Kapur – Eosen Awal. Agak lebih ke selatan ditemukan Formasi Jatibarang terdiri dari batuan volkanik yang hampir seumur dengan granit di utaranya. Tidak selaras di atas Formasi Jatibarang dan batuan dasar terdapat endapan laut dangkal dari umur Miosen Awal sampai Resen dengan tebal hampir 4000 m, umumnya terdiri dari lempung, pasir, dan gamping.

Mandala Banten terdiri dari tiga sistem pengendapan. Bagian terbawah dicirikan oleh endapan darat sampai laut dangkal, tebal 800 m, diikuti oleh breksi dan tufa, yang mekanisme pengendapannya berupa aliran gravitasi, tebal 1500 m. Sistem ke tiga berupa endapan laut dangkal, tebal 1000 m yang berumur Miosen Tengah.

Mandala Cekungan Bogor didasari oleh melange yang ditutupi endapan laut dalam berupa endapan lereng bawah terdiri dari lempung dan pasir kwarsa dengan sisipan breksi, kaya fragmen batuan metamorf dan beku ultrabasa, termasuk pada Formasi Ciletuh, tebal 1400 m. Endapan terbawah Cekungan Bogor dimulai oleh Formasi Bayah, terdiri dari pasir kwarsa dan lempung dengan sisipan batubara (tebal maksimal 80 cm), berumur Eosen Tengah sampai Akhir dengan lingkungan pengendapan darat sampai laut dangkal. Satuan ini ditutupi secara tidak selaras oleh endapan laut dangkal, Formasi Batuasih tebal 150 m yang terdiri dari lempung dan Formasi Rajamandala yang
terdiri dari gamping, tebal 90 m, umur Oligo-Miosen. Di atas endapan ini berupa endapan aliran gravitasi, dimulai oleh Formasi Jampang terdiri dari breksi dan tufa, tebal 1000 m, umur Miosen Awal. Nama Andesit Tua sering diberikan untuk satuan ini. Di daerah utaranya seumur dengan Formasi Jampang adalah Formasi Citarum, terdiri dari tufa dan greywacke tebal 1250 m. Kedua satuan ini merupakan satu sistem kipas laut dalam, dimana Formasi Jampang adalah bagian dalam dan Formasi Citarum merupakan bagian kipas luar. Di atas Formasi Citarum diendapkan Formasi Saguling (nama baru) terdiri dari breksi, tebal lebih dari 1500 m, umur Miosen Tengah. Diatasnya ditutupi oleh Formasi Bantargadung (nama baru), terdiri dari lempung dan greywacke berumur Miosen Tengah bagian akhir, tebal 600 m. Endapan termuda di Cekungan Bogor berupa breksi, berumur Miosen Akhir termasuk Formasi Cigadung (nama baru) di bagian Lembah Cimandiri dan Formasi Cantayan di bagian utara cekungan.

Pengisian Cekungan Bogor, pada waktu pengendapan Formasi Bayah dan kemungkinan pula Batuasih, umumnya berasal dari utara, sedangkan pada waktu pengendapan Formasi Jampang berasal dari selatan. Pengisian selanjutnya berupa sistem kipas laut dalam yang tumbuh maju (accreting) dari selatan ke utara sejak Awal Miosen sampai Miosen Akhir.

Ditinjau dari waktu terjadinya, di Jawa Barat ada tiga jalur batuan beku yang diperkirakan sebagai busur magmatik. Jalur tertua berumur Kapur – Eosen Awal adalah granit dan Formasi Jatibarang yang berarah Meratus. Jalur kedua terletak di selatan Jawa, berumur Oligo-Miosen, berarah baratlaut – tenggara, atau berarah Sumatra. Busur ke tiga adalah deretan gunungapi Resen yang menempati poros Pulau Jawa.

Struktur geologi Jawa Barat terdiri dari tiga arah, yakni Arah Meratus, Arah Sumatra dan Arah Utara-Selatan. Sesar-sesar tertua berarah Meratus, kemudian disusul oleh sesar-sesar Arah Sumatra. Sesar Arah Utara-Selatan hanya ditemukan di daerah Paparan Utara dan dianggap tidak mempunyai hubungan langsung dengan evolusi Cekungan Bogor.

Cekungan Bogor ini berubah statusnya dari waktu ke waktu. Pada Kala Eosen Tengah, Cekungan Bogor merupakan Cekungan Depan Busur. Perkembangan Cekungan Bogor paling jelas adalah mulai Kala Oligo-Miosen, cekungan berupa laut dangkal. Pada Kala Awal Miosen cekungan merupakan Cekungan Belakang Busur dan batasnya melebar ke selatan. Pada Kala Pliosen Akhir, Cekungan Bogor sudah berupa daratan yang ditempati oleh jalur magmatik, dan merupakan akhir dari cekungan ini.
Macam gerak tektonik yang bekerja di Cekungan Bogor berbeda-beda sesuai dengan status cekungan. Pada Eosen Tengah sampai Oligo-Miosen di Cekungan Bogor masih didominer oleh gaya-gaya tarikan mengakibatkan sesar turun dengan Arah Meratus. Pada Miosen Awal dan juga Plistosen pada Cekungan Bogor bekerja gaya tekanan yang mengakibatkan sesar-sesar naik yang merupakan jalur anjakan-lipatan (thrust-fold belt) yang berarah Sumatra. Sistem sesar mendatar di Jawa Barat ternyata tidak dominan.

Waktu perpindahan busur magmatik di Jawa Barat adalah bersesuaian dengan waktu perpindahan arah gerakan lempeng samudra di Lautan Hindia. Tetapi gerak-gerak tektonik di daerah ini juga cenderung berhubungan dengan aktifitas pluton.

Perpindahan status Cekungan Bogor dari Cekungan Depan Busur Magmatik ke Cekungan Belakang Busur Magmatik pada Kala Oligo-Miosen, secara langsung mempengaruhi potensi minyakbumi cekungan ini, dari kurang baik menjadi cukup baik. Di Cekungan Bogor sendiri, horison yang paling menarik sebagai batuan induk minyak-bumi adalah Formasi Batuasih dan Formasi Bayah bagian bawah, sedangkan sebagai batuan reservoar adalah Formasi Bayah bagian atas yang terdiri dari pasir kwarsa. Perkembangan maksimal dari horison-horison ini berada di sebelah barat dan baratlaut
dari Sesar Cimandiri.

Perkembangan sesar-sesar naik di Jawa Barat bagian utara, yang merupakan daerah anjakanlipatan
(thrust-fold belt) dapat menutupi daerah prospektif di bawahnya.

 

Referensi:

Martodjojo, S. (2003): Evolusi Cekungan Bogor, Penerbit ITB, Bandung.

Formasi Bojonglopang

Formasi Bojonglopang

Penamaan
Formasi Bojonglopang pertama-tama ditulis oleh Duyfjes (1939) dengan nama “Rif Kalk Facies”. Soekamto (1975) menamakan sebagai Anggota Bojonglopang dari Formasi Cimandiri. Nama Bojonglopang diambil dari kota kecamatan di selatan Sukabumi. Satuan ini dijadikan Formasi, karena sifat litologinya yang khas (gamping) berbeda dengan sekitarnya, serta mempunyai penyebaran cukup luas meliputi daerah panjang 45 km. Lebih dari itu secara regional kedudukan satuan ini adalah hanya menduduki tepi barat dari tinggian Jampang, yang menghadap ke Lembah Cimandiri.

Penyebaran dan Ketebalan
Formasi Bojonglopang hanya tersingkap dan tersebar sepanjang gawir timur S. Cimandiri, memanjang dari Cigalokbak di selatan Sukabumi sampai muara Cimandiri di Pelabuhan Ratu, meliputi panjang 45 km, dengan lebar
maksimum di daerah Bojonglopang 6 km. Ketebalan formasi ini berbeda-beda dari satu tempat ke tempat lain. Di daerah Bojonglopang ketebalan secara pasti sulit ditafsirkan karena sifat dasarnya yang tidak selaras. Dari
penampang geologi ketebalan maksimal di daerah Bojonglopang adalah 400 m (Soekamto, 1975). Di hilir Cimandiri didapat ketebalan batuan ini adalah >700 m (Ilyas, 1974).

Lokasitipe dan Stratotipe
Lokasitipe Formasi Bojonglopang adalah kota kecamatan Bojonglopang. Kota ini berkoordinat 106° 48’ B.T. dan 7° 3’ L.S. Stratotipe dari Formasi Bojonglopang diusulkan di sepanjang jalan dan mulai dekat Cimandiri di utara, sampai kota kecamatan Bojonglopang sendiri. Beberapa singkapan lain yang cukup baik adalah di S. Cigadog dan di Cijarian. Semuanya adalah anak Sungai Cimandiri.

Hipostratotipe Fm. Bojonglopang di Sungai Cijarian.

Ungkapan Morfologi
Sebagaimana singkapan batugamping, demikian pula Formasi Bojonglopang ini umumnya membentuk morfologi yang lebih tinggi dari batuan sekitarnya.
Ciri Litologi
Di daerah lokasitipenya, Formasi Bojonglopang membentuk perbukitan gamping, dimana batas terbawahnya ditemukan di kota Bojonglopang sendiri. Disini formasi ini dimulai dengan lapisan napal tufaan berlapis baik, tipis
(10 cm), yang banyak mengandung fosil foraminifera besar, foraminifera kecil, dan juga mollusca. Tempat lain yang menunjukkan dasar dari formasi ini adalah di Cibojong juga dekat kota Bojonglopang. Batuan di Bojonglopang ini banyak mengandung kwarsa (25%) dan gelas tufa, serta lempung (15%), dan selebihnya adalah fragmen fosil. Kadar CaC03 adalah antara 60 – 85%. Ketebalan dari napal tufa ini adalah 55 m.  Diatasnya setebal maksimal 10 m didapatkan batugamping berlapis, yang hampir semuanya berasal rombakan koral dari jenis Acropora sp. Fosil-fosil ini adalah merupakan thanatoconoese, dimana fragmen Acropora ini terletak horizontal sesuai dengan bidang perlapisan. Kebanyakan sudah tersemen kuat. Di atas rombakan koral ini didapat batugamping masif, kaya akan berbagai macam fosil terutama koral dan algae. Dari cirinya dapat dinamakan boundstone. Ketebalan dari boundstone ini dari 12 m sampai 35 m. Keadaan ini berulang terus di sepanjang jalan Cimandiri ke Bojonglopang. Dari pemeriksaan di sepanjang jalan tidak kurang 12 ulangan dari urutan tersebut diatas. Perulangan dari urutan tersebut belum dapat dianggap sebagai ketebalan total, mengingat letak dari formasi ini tidak selaras diatas Formasi Jampang. Di daerah selatan di S. Cijarian, Ilyas (1974) menyelidiki dengan teliti penampang Formasi Bojonglopang yang tersingkap di daerah ini. Bagian terbawah dari penampang di Cijarian merupakan gamping jenis “boundstone”,
berwarna kuning, coklat, setebal 46,5 m terdiri dari koral dan ganggang, rongga terisi mikrit, kadang-kadang mollusca kecil. Kadar karbonat 94,5 – 99,5% dengan residu berupa lempung. Diatasnya, setebal 7,5 m didapatkan gamping jenis “wackestone” berwarna coklat muda, berlapis baik, terdiri terutama dari fragmen koral, mollusca dan foraminifera besar. Fragmen berukuran pasir halus hingga kasar, terpilah buruk hingga sedang. Cangkang foraminifera dalam keadaan utuh, cangkang mollusca pecah-pecah dan agak terkikis. Kadar karbonat 96 – 98,5% dengan residu berupa lempung. Pada sayatan pipih gamping ini memperlihatkan tekstur klastik terdiri dari fragmen fragmenfragmenkoral, ganggang, cangkang mollusca, halus hingga kasar, terpilah buruk, fragmen
tersebar merata dalam masadasar mikrit. Butir kwarsa berukuran halus hingga sedang. Mikrit sebagian telah berubah menjadi mikrospar. Porositas termasuk jenis “porositas gerowong”. Di atas gamping jenis wackestone ini didapatkan kembali gamping jenis “boundstone” yang masif, berwarna coklat setebal 2,10 m, terdiri dari ganggang dan koral yang tumbuh bersama, dengan rongga-rongga diantaranya terisi oleh fragmen-fragmen mollusca, foraminifera dan mikrit. Kadar karbonat 89 – 89,5% dengan lempung sebagai residu yang utama. Pada sayatan pipih gamping ini memperlihatkan kerangka pertumbuhan koral dan ganggang, dengan fragmen mollusca, foraminifera
dan mikrit. Sebagian besar dari mikrit telah berubah menjadi mikrospar. Terdapat butir kwarsa berukuran halus hingga sangat halus. Lebih keatas didapatkan gamping jenis “wackestone” berwarna abu-abu hingga abu-abu muda dan coklat muda, setebal 23,5 m. Gamping ini terdiri dari fragmen berupa cangkang mollusca dan foraminifera, fragmen ganggang dan koral. Butir berukuran halus hingga kasar. Cangkang pada umumnya dalam keadaan
utuh. Kadar karbonat 87,5 – 98,5% dengan lempung sebagai residu utama. Pengamatan pada sayatan pipih memperlihatkan tekstur klastik dengan butir terdiri dari mollusca, foraminifera, ganggang, koral, berukuran halus hingga kasar, berbentuk menyudut tanggung hingga bersudut, terpilah buruk hingga sedang, tersebar merata dalam masadasar mikrit. Di atas gamping jenis “wackestone” ini didapatkan gamping jenis “mudstone”, berwarna abu-abu muda hingga abu-abu setebal 17,5 m, berlapis baik. Gamping ini terdiri dari cangkang mollusca yang mengambang dalam masadasar mikrit. Kadar karbonat antara 97 – 99% dengan residu berupa lempung dan sedikit kwarsa. Pada sayatan pipih gamping ini memperlihatkan tekstur klastik, terdiri dari butiran berasal dari cangkang mollusca, sedikit kwarsa, berukuran halus, mengambang dalam masadasar mikrit. Banyaknya butir hampir mendekati 10%,
hingga dapat disebut sebagai gamping jenis “wackestone”. Diatasnya, didapatkan gamping jenis “wackestone”, berwarna abu-abu tua, setebal kira-kira 30 m. Pada bagian bawah gamping ini terdiri dari fragmen ganggang, koral dan cangkang mollusca serta foraminifera. Cangkang pada umumnya dalam keadaan utuh. Kadar karbonat sebesar 95 – 99% dengan lempung sebagai residu. Pada sayatan pipih gamping ini memperlihatkan tekstur klastik, dengan butir berupa foraminifera, mollusca, ganggang berukuran pasir halus hingga kasar, terpilah buruk, butir mengambang dalam masadasar mikrit. Cangkang masih dalam keadaan utuh dan kelihatan mengalami rekristalisasi. Butir-butir tersebar merata, juga terdapat sedikit kwarsa berukuran halus serta glauconit dan fragmen batubara porositas termasuk jenis “gerowong”. Bagian teratas terdiri dari fragmen-fragmen ganggang koral, dan cangkang mollusca. Cangkang foraminifera sedikit sekali, dengan kadar karbonat sebesar 50 – 62%. Residu berupa kwarsa berukuran halus hingga sangat halus, sebanyak 30 – 40%, glauconit sebanyak 5 – 10% dan lempung sebanyak
7 – 10%. Kadang-kadang didapatkan sedikit gelas dan batubara. Pada sayatan pipih terlihat adanya tekstur klastik, butir terdiri dari mollusca, ganggang dan foraminifera, berukuran halus hingga sedang, terpilah dengan baik hingga sedang. Sebagian dari butir kadang-kadang saling mendukung satu sama lainnya (grain supported) sehingga sebagian dari gamping ini lebih cenderung termasuk gamping jenis “packstone”. Masadasar mikrit telah berubah mikrit telah berubah menjadi mikrospar. Butir-butir glauconit berukuran halus hingga kasar sangat banyak terdapat. Juga terdapat butir kwarsa, felspar dan sedikit batubara, cangkang sebagian utuh. Butir-butir pada umumnya tersebar secara merata. Porositas termasuk jenis “vug” dan antar butir. Satuan di atasnya, setebal 11 m adalah gamping jenis “boundstone” berwarna abu-abu muda hingga coklat muda. Gamping ini terdiri dari pertumbuhan ganggang dan koral, serta fragmen mollusca dan mikrit sebagai pengisi rongga. Kadar karbonat sangat tinggi sebesar 94,5 – 99,5% dengan lempung sebagai residu utama.

Di atas gamping jenis “boundstone” tadi, didapatkan gamping jenis “wackestone” setebal 45 m, berwarna abu-abu hingga coklat muda ini terdiri dari cangkang mollusca, fragmen ganggang dan koral, berukuran halus hingga kasar.
Kadar karbonat 89 – 99,5%, pada beberapa bagian sebesar 61,5%, dengan residu berupa lempung dan kwarsa.
Pada bagian dengan kadar karbonat rendah didapatkan residu berupa kwarsa berukuran pasir halus, menyudut tanggung. Kadar kwarsa sekitar 20 – 25% dan lempung sebanyak 5 – 10%.

Pada bagian atas didapatkan batupasir gampingan setebal 7,5 m. Batupasir ini berwarna abu-abu tua agak kehijauan, dan banyak mengandung mollusca dan glauconit. Dari ciri litologi dan kedudukan stratigrafinya, batupasir gampingan ini dapat kita sebut sebagai dasar atau bagian lidah Formasi Cimandiri di daerah ini.
Di daerah Bihbul, lebih lanjut Ilyas (1974) memerikan bahwa bagian terbawah “boundstone” berwarna coklat muda, setebal kira-kira 54,5 m. Gamping ini tidak berlapis yang terbentuk oleh pertumbuhan bersama ganggang dan koral, dengan pengisi rongga terdiri dari fragmen mollusca dan mikrit. Kadar karbonat sebesar 97,5 – 99,5% dengan lempung sebagai residu. Pada sayatan pipih terlihat adanya kerangka ganggang, dengan mollusca dan mikrit sebagai
pengisi rongga. Sebagian dari mikrit telah berubah menjadi mikrospar. Porositas termasuk jenis “growth framework” dan “vug”.

Pada jenis tengah didapatkan gamping jenis “wackestone” sebagai sisipan. Gamping ini coklat muda, terdiri dari fragmen ganggang, koral berukuran pasir halus hingga sangat kasar, terpilah buruk, ketebalan gamping ini adalah
10,5 m. Di atas gamping jenis “boundstone” didapatkan gamping jenis “wackestone” berwarna coklat muda, setebal 19 m, dengan gamping jenis “boundstone” setebal 6 m sebagai sisipan. Umumnya berlapis baik. Gamping jenis “wackestone” ini, bagian bawahnya berupa gamping yang terdiri dari fragmen-fragmen ganggang dan koral berukuran halus hingga sangat kasar, terpilah buruk, mengambang dalam masadasar mikrit. Bagian atasnya terdiri dari fragmen ganggang dan sedikit foraminifera besar. Kadar karbonat sebesar 99,5% dengan lempung sebagai residu. Pada sayatan pipih gamping ini memperlihatkan tekstur klastik, dengan butir-butir berupa ganggang, foraminifera dan mollusca yang mengambang dalam mikrit. Cangkang pada umumnya telah terpecah-pecah, dan tersebar secara tidak merata. Porositas terutama berupa “vug”. Gamping jenis “boundstone” yang merupakan
sisipan, terdiri dari pertumbuhan bersama ganggang dan koral, dengan pengisi rongga berupa mikrit, terlihat adanya gejala rekristalisasi. Kadar karbonat 99,5% dengan lempung sebagai residu. Selanjutnya, diatas dari gamping jenis “wackestone” didapatkan gamping jenis “boundstone” berwarna coklat muda setebal 12 m. Gamping ini terdiri dari ganggang dan koral yang tumbuh bersama, dengan pengisi rongga berupa fragmen mollusca, sedikit foraminifera dan mikrit. Kadar karbonat sebesar 99,5% dan lempung sebagai residu. Di atasnya lagi didapatkan gamping jenis “wackestone” berlapis, berwarna abu-abu hingga coklat muda setebal 29 m. Gamping ini terdiri dari fragmen-fragmen ganggang, koral, foraminifera dan mollusca berukuran halus hingga sangat kasar, terpilah buruk Cangkang pada umumnya telah pecah-pecah. Kadar karbonat sebesar 99% dengan residu berupa lempung serta kwarsa berukuran lanau kasar. Diatas gamping jenis “wackestone” ini didapatkan batupasir coklat muda, setebal 15 m. Pada bagian bawah dan tengah merupakan batupasir yang terdiri dari kwarsa berbutir halus hingga kasar, berbentuk menyudut tanggung, terpilah sedang dan banyak mengandung gelas. Kadang-kadang batupasir ini konglomeratan, serta terdapat pula sisipan konglomerat. Perubahan fasies dengan Formasi Cimandiri terlihat dari gamping, menjadi batupasir gamgampingan, dan pada akhirnya menjadi batupasir.

Ciri Batas
Formasi Bojonglopang terletak tidak selaras diatas Formasi Jampang. Batas ini jelas terlihat di sungai kecil di selatan kota Bojonglopang. Ketidak selarasan ini nampaknya bersudut. Batas atas Formasi Bojonglopang, tidak
pernah ditemukan, mengingat satuan ini adalah yang termuda di Pegunungan Selatan Jawa Barat. Ciri lateral Formasi Bojonglopang adalah perubahan fasies yang berangsur ke Formasi Cimandiri. Di beberapa tempat hubungannya menjari (Ilyas, 1974).

Kandungan Fosil dan Umur
Fosil pada Formasi Bojonglopang, macamnya berubah-ubah dari satu tempat ke tempat lainnya. Pada batugamping berlapis, fosil pembentuk utama adalah fragmen koral Acropora, dengan beberapa pelecypoda dan gastropoda, beberapa jenis ganggang yang terdapat merekatkan fragmen-fragmen koral. Penelitian terhadap napal berupa sisipan dari satuan ini menunjukkan :

Globorotalia siakensis
Globigerinoides subquadratus
Globigerinoides sacculifer
Globigerinoides obliqus
Globigerina venezuelana
Orbulina universa
Sphaeroidinellopsis subdehiscens

yang menunjukkan umur N13 – N14 (Miosen Tengah bagian atas). Pada beberapa contoh di S. Cilandak didapatkan
fosil yang sama dengan lokasi diatas, dengan tambahan fosil sbb. :

Globigerinoides trilobus
Globorotalia continuosa
Sphaeroidinellopsis subdehiscens

yang juga masih menunjukkan umur N13 – N14. Pada lokasi napal di sisi utara kota Bojonglopang, yang merupakan bagian bawah dari Formasi Bojonglopang, mengandung fosil-fosil sbb. :

Globorotalia peripheroronda
Globorotalia mayeri
Orbulina universa
Globigerinoides subquadratus
Globorotalia fohsi forma typica

yang menunjukkan umur N12 – N13. Penelitian terhadap batugamping menunjukkan beberapa genus foram besar :

Lepidocyclina ferreroi
Lepidocyclina angulosa
Myogypsina indonesiensis
Cycloclypeus martini
Operculinella sp
Cistellaria sp

Myogypsina indonesiensis menurut Karmini (M. Karmini, Komunikasi lisan) mempunyai umur sampai N12. Dari kumpulan fosil tersebut diatas kita dapat simpulkan bahwa umur Formasi Bojonglopang adalah N12 – N14 (Miosen Tengah bagian atas).

Kedudukan Stratigrafi
Formasi Bojonglopang menempati daerah tepian Pegunungan Selatan sepanjang 45 km. Kearah utara, ke Cekungan Bogor Formasi Bojonglopang ini berubah fasies menjadi pasirnapal, dengan sisipan gamping fragmental dari
Formasi Cimandiri yang berstruktur satuangenesa dari pola gosong pasir lepas pantai. Dari penyebaran ini dapat disimpulkan bahwa Formasi Bojonglopang merupakan terumbu yang tumbuh pada tepi tenggara Cekungan
Bogor, membatasi cekungan ini dengan daratan Bayah pada waktu itu.

Lingkungan Pengendapan
Sebagaimana umumnya gamping, khususnya terumbu, lingkungan pengendapan Formasi Bojonglopang adalah laut dangkal, daerah tembus cahaya dan bersih. Dari macam batuan pembentuk serta hubungannya dengan Formasi Cimandiri dapat disimpulkan Formasi Bojonglopang merupakan terumbu dengan bagian laut mengarah ke barat
(N12 – N14).

Referensi:

Martodjojo, S., 2003, Evolusi Cekungan Bogor, Penerbit ITB, Bandung.

Formasi Subang

Formasi Subang

1. Penamaan
Nama Subang diambil dari kota kabupaten Subang, dimana sekitar 2 km dari batas selatan kota ditemukan singkapan lempung abu-abu, kehitaman, yang merupakan salah satu singkapan dari Formasi Subang. Penamaan Subang pertama-tama diberikan oleh Sudjatmiko (1972). Beberapa penulis sebelumnya telah memberi nama yang berlainan terhadap satuan ini. Frei (1931) menamakannya sebagai “Cisubuh Serie”, Kehrer (1932) menamakannya sebagai “Onder Tomo”, untuk lempung bawah, “Tjilangkap Serie” untuk lanau di tengah, dan “Boven Tomo Serie” untuk lempung bagian atas. Ludwig menamakan sebagai “Cidadap Lagen” sedangkan van Bemmelen (1949) menyebutnya sebagai Formasi Cisubuh. Nama Subang dipilih dalam penelitian ini mengingat nama tersebut sudah cukup dikenal dalam pustaka.

2. Penyebaran dan Ketebalan
Penyebaran Formasi Subang cukup luas, dan umumnya menempati tepi selatan dari morfologi dataran pantai di utara Jawa Barat. Penyebaran dari mulai Cibinong sampai ke daerah Tomo, Kadipaten. Ketebalan dari satuan ini sulit dihitung dengan tepat mengingat buruknya perlapisan, di samping di beberapa tempat telah mengalami
pengaruh Sesar Baribis. Ketebalan terukur di daerah Krawang Selatan adalah 516 m, sedangkan di Purwakarta
diperoleh ketebalan sekitar 750 m (Assa, 1980), dan di daerah Subang adalah sekitar 800 m, lebih ke timur ketebalan satuan ini kelihatannya menebal (Tjia, 1963; di Tomo sekitar 2900 m).

3. Lokasitipe dan Stratotipe
Lokasitipe dari Formasi Subang adalah kota kabupaten Subang. Stratotipe Formasi Subang sulit untuk ditentukan, mengingat ciri litologinya agak berbeda dari barat ke timur. Di daerah Krawang Selatan, Formasi Subang bagian bawah mempunyai urutan lempung berlapis, makin ke atas berubah menjadi pejal, tak berlapis, di bagian tengah dan atas berubah menjadi pasiran kadang-kadang konglomeratan, dan akhirnya berubah menjadi lempung coklat, sebelum ditutupi Formasi Kaliwangu yang kaya akan mollusca dan sisipan lignit. Di daerah Tomo, Formasi Subang hanya terdiri dari lempung, berlapis baik di bagian bawah, dan tidak berlapis dan kaya akan konkresi pada bagian atas. Oleh karena itu sulit untuk memilih stratotipe.

4. Ciri Litologi
Bagian terbawah Formasi Subang umumnya berupa napal abu-abu sering berlapis baik, kadang-kadang menyerpih. Ke arah atas serpih berubah menjadi lempung, napal dengan sisipan pasir tipis. Bagian tengah Formasi Subang
dicirikan oleh lempung masif tidak berlapis, konkoidal dan kaya akan konkresi, dari ukuran beberapa cm sampai lebih dari 1 m.
ANGGOTA CICAUH
Satuan ini khas untuk endapan Formasi Subang di daerah Krawang Selatan. Lokasi tipenya pada Antiklin Cicauh di antara Bekasi – Cibarusa, Krawang. Satuan ini mempunyai ketebalan sekitar 106 m sebagaimana terukur di daerah
Krawang Selatan (Nasir dan Tjahyo Hadi, 1981). Anggota Cicauh terdiri dari batupasir glauconitan kadang-kadang
konglomeratan. Pasirnya terdiri dari kwarsa, karbonan Kadang-kadang cukup tebal (4 m di Cibenda). Batupasir ini
bersisipan batulempung pasiran, abu-abu, rapuh. Formasi Subang bagian atas, kembali didominer oleh lempung, abu-abu, kehijauan, lunak sampai getas, pada bagian atas terdapat sisipan batupasir. Batupasir ini bersifat tufaan, abu-abu, berbutir halus, mengandung glauconit kadang-kadang membentuk struktur silang siur kecil. Di daerah Tomo dan Subang, Formasi Subang kebanyakan didominer oleh lempung hitam abu-abu, masif, konkoidal, yang kaya akan konkresi-konkresi. Perlapisan disini umumnya sangat buruk. Perlapisan hanya dapat dikenal dari sisipan pasir tipis, membentuk struktur flaser, serta kelurusan dari konkresi-konkresi kecil.

5. Ciri Batas
Formasi Subang dapat dibedakan dengan mudah dari Formasi Parigi yang berada di bawahnya. Perubahan umumnya agak berangsur dari gamping Formasi Parigi, berubah menjadi gamping napalan dan akhirnya menjadi napal menyerpih dari Formasi Subang. Ciri batas atas kadang-kadang sulit ditentukan. Formasi Kaliwangu umumnya terdiri dari pasir dan lempung, sehingga pada beberapa tempat kalau dasar Kaliwangu lempungan dan
puncak Formasi Subang bersifat pasiran ciri batas agak sulit ditentukan, seperti yang terlihat di S. Cikandung, Sumedang. Tetapi adanya lempung yang tidak bereaksi dengan HCL, serta munculnya sisipan batubara dapat dipakai sebagai tanda mulainya Formasi Kaliwangu.

6. Kandungan Fosil dan Umur
Fosil penunjuk dari Formasi Subang, kebanyakan berupa foram plankton yang tidak terdapat secara umum, tetapi membentuk “pocket” tersendiri. Di antara fosil penunjuk tersebut adalah:

Globorotalia tumida
Globorotalia lenguaensis
Globorotalia pleisiotumida

Kumpulan di atas menunjukkan umur N17 atau Miosen Akhir.
Di samping itu juga banyak ditemukan fosil foraminifera bentos. Pada bagian bawah banyak ditemukan fosil:

Nodosaria sp
Bolivina sp
Robulus sp

Sedangkan bagian atas banyak ditemukan Rotalia (Streblus) becarii yang menunjukkan lingkungan pengendapan air payau. Beberapa contoh di S. Awitemen dan di Cigarogay, Purwakarta menunjukkan umur sekitar Miosen Akhir (N17).

7. Lingkungan Pengendapan
Dari urutan ciri batuan, serta ciri struktur sedimen dari bawah berupa lempung berlapis, diikuti lempung masif penuh acakan binatang, ke atas berkembang menjadi pasir bersilang siur (Anggota Cicauh), memberikan gambaran lingkungan pola regresi. Lingkungan pengendapan dari Formasi Subang diperkirakan berupa dua urutan dataran
pasang surut (tidal flat). Urutan pertama adalah perkembangan dari lempung ke pasir Anggota Cicauh, mengingatkan pola regresi dari urutan lempung lepas pantai (offshore) yang berlapis, berubah ke daerah dataran lempung diikuti oleh daerah pasir. Urutan dataran pasang surut ini kemudian berulang, hanya dalam skala yang lebih kecil yakni dari urutan lempung ke pasir, atau lempung pasir yang kaya akan struktur “flaser” dari Formasi Subang bagian atas. Urutan dataran pasang-surut ini juga terlihat di daerah sebelah timur, Sumedang Utara
(Conggeang). Di daerah ini urutan kedua yang berada di atas tidak berkembang, demikian pula urutan pasir dengan struktur flaser tidak jelas. Mungkin ciri terakhir ini dimasukkan ke dalam Formasi Kaliwangu. Pada daerah ini Formasi Kaliwangu berkembang baik.

 

Referensi:

Martodjojo, S., 2003, Evolusi Cekungan Bogor Jawa Barat, Penerbit ITB hal 99-101.

Apa itu Peta?